Sukses datang karna eksekusi bukan inovasi

Sukses datang karna eksekusi bukan inovasi

Sukses datang karna eksekusi bukan inovasi

Kita sering mendengar dan membaca dari banyak buku mengenai pentingnya inovasi. Beberapa narasumber bahkan sangat menekankan hal ini hingga beberapa slogan tercetus sperti, inovasi tiada henti, innovate or die, dan banyak lainnya.

Ini akhirnya mendorong terciptanya semacam penyakit sosial yang berpusat di ‘inovasi” itu sendiri. Ujungnya, semua orang ingin “berinovasi”. Berita-berita bisnis dipenuhi dengan tajuk utama “siapa yang paling inovatif”. Hampir semua lini pemasaran sebuah perusahaan sangat menekankan filosofis sebuah kata ‘Inovatif”. Tak urung akhirnya di ajang penghargaan bisnis diwarnai dengan lomba “mosst innovative award…”, dan seterusnya.

Bahkan, perusahaan tidak segan-segan menganggarkan miliaran rupiah atau jutaan dolar untuk mengembangkan riset khusus untuk perkara inovasi ini. Berbagai proyek inovasidiciptakan, berbagai tim perumus dan pemikir dibentuk, mulai dari tim alfa, beta, charlie dsb. Namun apa yang terjadi setelah penemuan-penemuan brilian itu ? Sistem berganti, pengurus datang dan pergi, rezim baru akhirnya memutuskan untuk mengalihkan arah strategi korporasi kepada hal baru yang sama sekali berbeda dengan semangat inovasi semula. Hanya demi menjaga basa-basi dan ‘Kesinambungan” misi dengan pendahulunya, maka satu atau dua jenis penemuan diterapkan. Celakanya, penemuan yang tidak terpakai justru yang paling mahal, baik harga beli maupun nilai risetnya.

Lalu, apa selanjutnya? Rezim baru pun tidak mau kalah dengan pendahulunya. Mereka membuat rencana terobosan lima tahun ke depan mengandalkan fungsi risetdan pengembangan, yang ditandai oleh adanya inovasi terbaru yang nantinya patut diandalkan oleh perusahaan. Lagi-lagi perusahaan harus mengeluarkan anggaran, kembali berinovasi, berpikir kembali. Namun, bagaimana dengan eksekusinya?

Tak terkecuali kita semua yang akhirnya mengiyakan bahwa inovasilah yang membuat perusahaan bisa tumbuh dan bertahan. Dengan inovasi, profit bisa diraih dan ditingkatkan. Apakah ini benar? Tidak ada yang salah dengan pola pikir seperti itu. Hanya saja, pernahkah kita terpikir sesuatu dari sudut pandang yang lebih dalam?

Bagaimana jika kami menawarkan bahwa sebenarnya bukan inovasi yang akan mengarahkan keberhasilan, melainkan eksekusilah yang mengawal kita pada pintu sebuah kesuksesan? Tidak peduli seberapa baik atau brilian ide yang muncul, hal terpenting adalah cara merealisasikannya; bagaimana mengeksekusi ide menjadi sesuatu yang nyata.

Walau begitu sejarah masa lalu masih timpang dan lebih memihak kepada penemu dibandingkan kepada pelaksana. Di sekolah-sekolah bisnis pun selalu ditekankan untuk selalu menemukan ide-ide baru. Namun, mari kita melihat disekitar. Saat ini kebanyakan orang sukses adalah orang-orang yang mewujudkan ide dengan sangat baik, bukan sekadar datang dengan sebuah gagasan. Elvis tidak menciptakan rock & roll. Ford tidak menemukan mobil atau jalur perakitan. Apple tidak menciptakan GUI. Webster tidak menemukan kamus. Maytag tidak menciptakan mesin cuci. Google tidak menemukan pencarian web.

Napster mengubar dunia musik, tetapi Itunes-lah yang mengambil keuntungannya. Google adalah salah satu perusahaan yterakhir di era internet bubble yang menjadi penguasa di mesin pencari (search engine). Palm adalah perintis pertama yang memproduksi smartphone, bukan blackberry. Namun, sekarang anda bisa membayangkan berapa banyak pengguna Blackberry saat ini di seluruh dunia? Dan coba kita menoleh sebentar ke belakang, Friendster adalah perintis jaringan sosial sebelum Mark Zuckenberg-penemu facebook. Namun, kita semua tahu siapa penguasa pasar jejaring sosial di dunia maya saat ini?

Bagaimana dengan Apple? Apple memang visioner ketika muncul dengan produk pertamanya yaitu komputer. Namun, apa rahasia sukses Apple saat ini ? Tidak lain dan tidak bukan adalah Ipod, Iphone dan Ipad yang sebenarnya adalah pembaharuan versi MP3 Player, smartphone dan e-book reader.

Walaupun kita tidak bisa memandang sebelah mata, walaupun banyak juga inovator yang ahli di bidang eksekutor. Contohnya Alexander Graham Bell. Jadi, berhentilah untuk khawatir tentang “ datang dengan sesuatu dengan  sesuatu hal yang benar-benar baru”. Kita tidak harus selalu melakukan sesuatu hal yang benar-benar baru setiap saat, melainkan hanya menjalankan ide yang ada dengan unggul.

Untuk menambah nilai  atau sedikit perbedaan dan perbaikan, kita bisa menambahkan sedikit sentuhan khas guna. Banyak contoh yang telah disebutkan, telah membuktikannya.

Ini tidak berarti semua orang tidak harus berinovasi. Inovasi tetap harus berjalan karena ini akan menciptakan era baru dan mungkin merupakan kemajuan peradaban manusia. Hal yang perlu digarisbawahi adalah inovasi bukanlah jalan sukses jangka panjang yang Anda impikan. Kunci semua itu berada pada eksekusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>