Ide Tak Bermakna Tanpa Eksekusi

Ide Tak Bermakna Tanpa Eksekusi

Ide Tak Bermakna Tanpa Eksekusi

Ide Tak Bermakna Tanpa Eksekusi

Sangat mengagumkan jika Anda bertemu dengan orang-orang penuh inspirasi dan ide-ide baru. Otak orang-orang ini dipenuhi dengan ide dan konsep-konsep baru. Terkadang kita mungkin akan dibuat terheran-heran karena originalitas ide-ide mereka. Tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya dari mana ide tersebut bisa muncul. Bisa saja ide-ide ini akan mampu mengalahkan boomingnya facebook atau lebih menggiurkan dibanding larisnya Ipad-apple. Semua hal tersebut akan membuat kita terkagum-kagum karena merekalah yang pertama memikirkannya.

Hanya saja maaf, semua itu masih sebatas ide dan konsep, belumlah siap diaplikasikan. Mungkin kita semua pernah bertemu dengan orang seperti ini, tak terkecuali kami. Biasanya mereka sangat yakin bahwa ide-idenya fresh from the oven, benar-benar baru dan unik.

Beberapa tahun lalu kami pernah bertemu dengan teman-teman seperti ini. Dengan penuh antusiasme, mereka menceritakan ide dan konsepnya, mencoba meyakinkan saya tentang konsep produk yang belum pernah ada di dunia IT Based Marketing. Beberapa saat kami pun sempat mengujinya dan menilai ide dan konsepnya punya masa depan cerah.

Apa yang terjadi setelah itu ? Seiring berjalannya waktu, ide-ide penuh semangat itu hilang ditelan bumi. Konsep-konsep yang telah disusun pun luntur dengan kendornya semangat tim mereka. Produk IT Based Marketing yang sudah dicoba, berhenti mendadak dan terbengkalai jauh dari mimpi sebelumnya. Sekali lagi akhirnya kandas ditengah jalan. Ironis bukan ?

Tentu kita sudah sering mendengar istilah “omdo” (omong doang) atau juga “NATO” (No Action, Talk Only). Keduanya merupakan hal umum yang kerap terjadi dalam kehidupan. Mungkin fenomena tersebut menjelaskan mengapa begitu banyak ide tetapi realitasnya nol. Terlalu sering kita menemui bahwa lebih mudah berkata-kata, tetapi mengerut begitu sampai tahap implementasi. Disini terlihat jelas bahwa eksekusi bukan hal yang mudah.

Beberapa analogi bisa dengan mudah kita temui di aktivitas sehari-hari. Bukankah Indonesia memproduksi sebegitu banyak komentator bola dibanding dengan pemain bola yang hebat ? Siapa pun  bisa dengan mudah mencela permaianan bola, memberikan solusi taktik dan skema pelatihan buat PSSI. Namun, bagaimana dengan realisasi di lapanagan? Harus menunggu bertahun-tahun lagi, begitulah bahasa halusnya jika tidak ingin mengatakan “NOL BESAR”.

Atau coba kita bayangkan, maukah Anda belajar menyetir mobil pada orang yang belum pernah mengendarai mobil ? Akankah Anda rela datang jauh-jauh ke klinik penumbuhan rambut sementara si terapis sendiri berkepala hampir botak? Apakah Anda bersedia belajar menjadi eksekutor dari orang yang tidak pernah melakukan eksekusi? Tentu tidak, bukan?

Ide sama sekali tidak bermakna tanpa realisasi. Konsep tidak akan berharga tanpa adanya konsistensi eksekusi. Tidak ada ide yang sama sekali baru. Hampir semua ide baru adalah pembaruan dari sesuatu yang pernah ada. Sebrilian apapun, ide itu merupakan update/upgrade dari yang sudah pernah ada. Misalnya, lampu hemat energi. Apakah itu merupakan upgrade dari bohlam lampu biasa zaman kita kecil? Atau coba kita tengok notebook/PC. Peralatan cangging tersebut adalah pembaruan ide dari mesin ketik. Sekarang, mari kita melihat ke belakang, sekitar tahun 1990-an. Saat itu kita masih menggunakan sistem komputer under DOS dengan fitur andalan wordstar dan lotus. Hari ini hampir sebagian besar pengguna komputer di dunia menggunakan  Windows entah itu Windows XP atau Windows 7 produk terbaru Microsoft.

Suatu waktu, sekitar tahun 2002, sekelompok anak manusia pernah memiliki ide untuk membuat ponsel yang tahu kebutuhan wanita. Maksudnya, ponsel yang memiliki fungsi sebagai pengganti cermin kecil. Kita semua tahu arti cermin bagi seorang wanita. Dengan alat ini mereka bisa dengan mudah membenahi tatanan rambut, memastikan lipstik masih cukup menarik untuk dilihat, dan bisa membantu mereka saat membersihkan gigi sehabis makan siang. Namun semua itu masih dalam tataran ide dan konsep. Tahukah Anda bahwa kira-kira setahun kemudia salah satu vendor besar ponsel terkenal sudah memproduksi ponsel seperti ini?

Selang waktu kemudian, berangkat dari “patah hati” dari kisah tersebut, sekelompok anak manusia ini mulai membuat ide baru lagi. Kali inilebih sederhana. Mereka memiliki ide tentang pengharum kloset yang digunakan saat flush closet digunakan (jauh sebelum Bebek Closet dijual dipasaran). Kali ini tahapan pekerjaannyalebih baik dibandingkan sebelumnya yang hanya sebatas ide. Mereka bahkan mempersiapkan hingga konsep produk termasuk material pengharum, dimensi produk, kemasan, dan cara penempatan di kloset. Setelah  konsep ini selesai, mulailah mereka perlahan-lahan mencari hal-hal yang dibutuhkan. Namun, karena lagi-lagi halangan prioritas dan eksekusi, proyek itu kembali terbengkalai. Dan, tepat lima bulan kemudian, produk serupa dengan ide dan konsep tersebut sudah muncul di pasaran. Bebek Closet sudah dijual di supermarket-supermarket. Mengenaskan, bukan?

Kekuatan  orisinalitas ide apapun yang mudah ditiru dalam waktu dekat oleh orang lain, oleh pesaing tentu juga merupakan hal yang harus diperhatikan. Sebagus apapun ide yang kita miliki, tetapi jika mudah ditiru orang lain, ide tersebut tidak bernilai tinggi. Penilaian lebih pada suatu ide adalah seberapa hebatnya Anda mampu mengeksekusinya; seberapa cepat Anda mampu merealisasikannya. Itulah kunci-nya. Sukses di dapat bukan karena ide itu sendiri , melainkan seberapa bagus kita atau tim kita mengeksekusi ide dan konsep menjadi nyata.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>